Ga Enaknya Jadi Kontraktor

June 21, 2007 at 6:08 am | In Kehidupan | 3 Comments

Kontraktor identik dengan banyak uang, mapan dan kekayaan. Tapi ternyata itu tidak identik diriku / kami yang bersetatus “kontraktor”. Yach di usia ke-3 perkawinan kami, kami masih nomaden, pindah dari satu rumah ke tempat lain, dari satu blok ke blok yang lain. Aku tidak resah, nggersulo, sedih atau pusing dengan kondisi ini, sama sekali tidak. Apalagi sedih dan menyesal bersuamikan suamiku, ehm no way lah yauw…!meski aku belum punya rumah, tapi kami sama sekali tidak pernah merasa kekurangan, kami tidak punya hutang, malah terkadang bisa meminjamkan (menghutangi )orang lain yang membutuhkan. Tapi ya itu tadi, dunia saat ini kan emang sudah jungkir balik ga karu2an, penghargaan seseorang biasanya memang dinilai dari kekayaan yang dimiliki, setuju?

Yach… orang akan lebih hormat dan ngregani wong sugih (meskipun mereka tahu kekayaan yang mereka miliki hasil rampokan). Korupsi itu merampok kan? Sedang orang yang hidup sederhana karena kejujurannya (tidak nilep dan korupsi) jarang sekali dihargai dan di orangkan (bukan berarti aku termasuk yang kedua lho ya…). Status kami sebagai sebagai kontraktor memang sering membuat orang sedikit memandang sebelah mata pada kami. Aku merasakan beberapa kali, dan tadi pagi untuk yang kesekian kalinya.

Kejadiannya Saat aku mau beli sayur. Biasa jam 11 an ada tukang sayur langgananku yang lewat depan rumah, seperti biasa aku tanya dulu dari balik pagar, ada tidak sayuran yang kubutuhkan. Ternyata ada, nah saat itu bude-bude depan rumah juga mau belanja, akhirnya biar tidak terlihat malas, saya keluar aja. Aku bilang “ntar deh, saya pakai baju dulu”. Sepeninggalku, aku denger mereka ngrumpi “pakai baju gimana sih, emangnya tadi telanjang apa” mereka mengatakan itu dengan penuh keheranan. Waduh diriku dianggap aneh! Aku sebenarnya ga terlalu ambil pusing, cuma karena kejadiannya dah beberapa kali jadi mikir juga nih. Solusi yang ada di kepala “secepatnya punya rumah dan tidak ngontrak!”

He ..he..he..solusinya rada-rada ga nyambung gitu ya? Emang iya sih. Tapi aku tetap pingin solusi itu. Yang lain ya mungkin dengan cara tak usah terlalu banya bersinggungan dengan tetangga, sekedarnya saja, bicara juga seperlunya saja, ga sah terlalu akrab apalagi SKSD ehm….nehi, jangan sampai deh. Ya Allah…lindungi kami, keluarga kami dari perkataan yang sia-sia yang bisa menjerumuskan kami, bantu kami untuk menjaga lisan kami ya Allah, berilah kami kemudahan dalam bermasyarakat dan jauhkan kami dari rasa “SOK”, sombong dan sifat-sifat buruk lainnya. Amien…..

Selasa, 8 mei 2007

Begitu cepat !

June 21, 2007 at 6:04 am | In Kehidupan | Leave a Comment

Keren..! Setelah kutengok jam dinding ternyata dah pukul 14.30. Masyaallah begitu cepatnyakah waktu berjalan? Kurasa aku belum melaksanakan hal yang cukup “istimewa” hari ini, kok tiba-tiba dah sore yaa,hmmm…gemes jadinya. pagi tadi aku puter-puter cari kontrakan pak Mie, guru kelas Aisha (murid privatku dari 3 tahun yang lalu)  dianter suamiku tercinta. Alhamdulillah ketemu dan sedikit sharing masalah “Aisha”. Setelah pulang  n menunggu suami siap-siap, aku mengantar sampai Nagrak. Pulangnya  mampir rumah bu Ummu. Maunya sih belajar tahsin dikit-dikit tiap hari, ternyata bu Ummu ga punya waktu, kegiatannya full pe sore. Akhirnya pulanglah aku ke rumah. Hasrat hati ingin langsung pegang komputer, tapi Zahidnya dah minta nenen, yach akhirnya…(tau sendiri kan kalau nenen butuh waktu yang tidak sedikit), dinikmati saja!

Jam 11.00an baru bisa mulai baca, sebentar kemudian harus masak (yang Bantu di rumah belum bisa mandiri) he pas nyadar ternyata dah jam segitu. Yach..I hope tomorrow better than today, amien….

Senin, 30 april 2007

Teman Lama

June 21, 2007 at 6:01 am | In Kehidupan | 1 Comment

Naik busway untuk yang ke-3 kalinya, penuh perjuangan!

Hari ini aku ada janji sama teman lama dr Yogyakarta, ishmah (cs, sahabat,dll). Kami janji ketemuan di gedung diknas jalan jendral sudirman, karena dia buka stand matapena disana. Hitung2 sekalian mendatangi bookfair lah. Kami brankat dr rumah dhuhur, kufikir sampai di sudirman jam 2an, trnyata…..masyaallaoh, betul2 butuh perjuangan ekstra. Benernya ada Bis mayasari nagrak-blok M, tapi kami menunggu lama sekali. Akhirnya kami naik angkot ke uki-busway kampong melayu-manggarai-jalan dulu-halte….-baru deh sampe di sudirman-masih naik sekali lagi pe gedung diknas. Tapi ta apalah demi bertemu seorang sahabat, kayaknya kami ketemu 3 th yang lalu saat aku nikah, belum banyak yang berubah sih, meski kita berdua sudah ibu2,tp kagak keliatan tuch….
Ngobrol ngalor ngidul sampil membandingkan kehidupan yogya dan Jakarta (yang jelas sangat jauh berbeda!) ga terasa dah jam 7 mlm. My husband said “we must go home”.

Hik hik, padahal kangennya belum ilang, ngobrolnya belum  tuntas, tapi yaaa..mau gimana lagi. Yach dengan berat hati harus pamitan, kita memang memiliki jalan hidup yang berbeda ya is, semoga aku bisa lekas punya modal untuk hijrajh ke yogyakarta hadinimngrat, kota impian…

Sabtu, 28 April 2007

Ibu Sejati

June 21, 2007 at 6:00 am | In Kehidupan | Leave a Comment

Jenuh. Hampir 1,5 bulan aku meninggalkan aktifitas yang telah kujalani hamper 5 tahun terakhir ini. Aktifitas sangat mulia kata orang. Pendidik memang pekerjaan paling mulia kok, bagaimana tidak, hampir setiap orang bisa, tahu dan faham berbagai ilmu pengetahuan itu kan yang fasilitatornya kan guru (meski ada yang beranggapan otodidak juga bisa). Yach..mulia atau tidak, yang pasti aku dah memutuskan istirahat sejenak dari aktifitas tersebut, entah untuk 1 atau 2 bulan kedepan.

Awal-awal tidak mengajar rasanya asyik buanget, bisa melihat perkembangan sang buah hati  dari menit ke menit yang sungguh sangat fantastis! Dari bisa mengucapkan 2 kata, 3 kata hingga sekarang hamper 5 pe enam kata. Tapi memang ga bisa dipungkiri juga kalau aku yang biasa punya komunitas yang cukup besar dan satu visi, sekarang harus berinteraksi hanya dengan beberapa gelintir orang, yang kayaknya belum satu pikiran. Sebenarnya sudah ada sekolah yang menawari, tapi memutuskan untuk kembali kerja kok ada kebimbangan ya…..belum tahu juga masalahnya apa.

Senin, 27 maret 2007

Macet Baca Doa

June 21, 2007 at 5:58 am | In Keluarga | Leave a Comment

Sudah hari ke-3 Zahidku sayang macet baca doa sebelum makan, jd yang ia baca hanya basmalah. Penasaran sebenarnya melihat itu, setelah kutanyakan ke mba Fitri ternyata memang ada kejadian sebelum itu. Jadi ceritanya pas ku tinggal privat ke aisha kamis sore, Zahid itu dipanggil main ke rumah mas Bita (tetangga samping kanan rumah) nah di sana Zahid dikasih semangkok burjo (bubur kacang hijau). Karma bude kasim tau Zahid dah bisa baca doa sebelum makan,akhirnya sama bude si Zahid mungil ini selalu diminta baca doa sebelum disuapin (hmmmm! Bayangkan berapa kali dia harus baca doa untuk semangkok burjo? ) padahal setiap selesai “adzaa ban naar” dia selalu ketawa, dan pasti orang yang melihatnyapun pasti akan ikut ketawa. akhirnya aku bisa menarik benang merah dari situ, ehmmmm….bisa jadi Zahid kesel dengan kejadian itu, disamping harus baca berulang-ulang, dia juga merasa diketawain. Ach Zahid masa’ sich kamu seperasaan n sesensitif itu? ach ibu berharap, besok atau lusa lisanmu mau mengucapkan kalimat itu lagi, semoga……………..

Senin, 26 Maret 2007

Kolesterol Tinggi Kambuh ?

June 21, 2007 at 5:57 am | In Kehidupan | Leave a Comment

Pagi ini kami berencana ke puncak, ngajak jalan mbak Vitri, mbak yang selalu setia menemani Zahid. planningnya dah lama banget, kebetulan juga pekan ini long weekend karena senin libur waisak, klop lah. Pas selesai nyiapi perbekalan, aku buka HPku (yang emang dari semalem tidak kusentuh), ternyata ada sms dari bu aisyah, teman di naturislam, kalau hari ini ada undangan special dari umminya Sabrina. Nah loo…bingung aku jadinya.mana yang harus dijalani ya? Setelah sharing dengan suami, akhirnya kami memutus kan ke KAPARINYO open house, bukan tanpa alasan sih, khawatir dibilang tidak menghargai undangan, karena dulu dah ga datang saat diundang. Kami memutuskan ke puncaknya ahad saja, moga Mba vitri ga kecewa (emang enggak sih). Akhirnya kami brankat bertiga(me, husband n Zahid) naik motor 2 jam booo. Alhamdulillah sampai sana langsung disambut temen-temen SANI, capeknya jadi hilang, ditambah lagi setelah diambilin salah satu menu disana oleh bu laily, serasa ga habis jalan jauh.

Subhanallah…temen-temen ada yang tau kaparinyo ga sih? Kami lihat menu yang disajikan dalam open house ini sangat Ruarr biasa! Bisa dimaklumilah, karena menurut issu yang saya dengar, ini memang catering besar langganan para pejabat teras dan menengah ke atas, kalau tidak salah sih setiap pemesanan tidak pernah kurang dari 50 juta (ha! Hanya u makan, kalau u saya mending u cicilan n bangun rumah eh naik haji deng he  he   he ).

ach ..berapapun harganya, hari ini kami n kita2 diundang untuk “mencicipi”  masakan kelas atas itu, yaaa kami nikmati aja. Icip lagi…icip lagi…………

Apa yang terjadi setelah itu, hmmmm…….suamiku tersayang pusing berat, sudah hafallah sebabnya, dia kan pada dasarnya tidak boleh makan makanan yang enak-enak kayak gitu, pasalnya meski baru 28 th dan masih ganteng, dia berkolesterol tinggi n pernah punya asam urat. Kata dokter sih itu terlalu dini untuknya. Yaa itulah kenikmatan sesaat untuknya, sekarang menahan sakit yang amat sangat. Kasihan deh aku, belum sempat nyicipin semua masakan, sekarang harus fokus ma Zahid karena suamiku tiduran di mushala atas. Ga papalah, berdoa smoga tar suamiku cepat sembuh n bisa pulang bareng. Alhamduliilah berhasil.

Sabtu, 17 maret 2007

Jatuh…

June 21, 2007 at 5:55 am | In Keluarga | Leave a Comment

Meski semalam badanku menggigil dan pusing ga karuan, hasratku untuk masak peyek dan martabak favoritku pagi ini ta tertahankan. Akhirnya dengan penuh semangat ku blender itu kacang kedelai trus kuaduk dengan adonan peyek yang lain. Lagi serius nggoreng peyek tiba-tiba “gluodak..gedebug!” aku kaget banget setelah kulihat ke samping rumah ternyata Zahid jatuh miring dari tempat yang agak tinggi di samping rumah. Ya Allah dia nangis histeris banget, kulihat kepala belakang bagian kiri benjol dan agak kemerahan. Setelah kudekap, Zahid sedikit tenang, trus minta nenen. Alhamdulillah setelah itu dia melupakan rasa sakitnya barusan. Jujur aku paling takut kalau Zahid jatuh n kepalanya kebentur-bentur kayak gitu, masalahnya kepala itu kan bagian sangat rawan, sepertinya bila ku ingat, Zahid tiada hari tanpa jatuh. Ach…Allahu a’lam. semoga kau tak apa2 nak…
Semoga Allah selalu melindungimu dari hal-hal yang membahayakanmu…..Amien

Kamis 22 Maret 2007

Zahid 20 bulan 4 hari

June 21, 2007 at 5:54 am | In Keluarga | Leave a Comment

Terkadang aku kesel kalau Zahid minta nenen, habis mentang-mentang ibunya stay at home trus seenaknya saja setiap saat minta nenen. Sbenernya ga masalah juga sih kalau ASI-nya ada, hal ini jadi masalah karena makin hari aku merasakan produksi ASI-ku makin sedikit, jd kalo dineenen terus, selain “milikku sakit” Zahid jadi cepat ngambek dan marah. Tapi jujur sekarang kekesalanku hilang sama sekali, malah aku selalu menunggu-nunggu Zahid minta nenen. Mau tau sebabnya ? Aku suka denger Zahid baca do’a sebelum makan, bayangkan sudah hampir lengkap. Emang sih belum bisa memulai sendiri, tapi ketika kita bilang “Allahumma…” Zahid pasti akan langsung melanjutkan “…baiklana fiima ozaktana.. fiima ozaktana…. fiima ozaktana….. fiima ozaktana (bisa sampai 3 ato 4 kali ) trus kita bilang “wa qina adza…” Zahid akan bilang “banner. he he he…” itu selalu yang dilakukan Zahid sebelum nenen. Ngangenin banget tho?

Senin, 5 Maret 2007

Zahid 19 bulan

June 21, 2007 at 5:52 am | In Keluarga | Leave a Comment

Bahagianya seorang ibu melihat perkembangan anaknya hari demi hari. Si mungil Zahid, di umur yang ke-19 bulan ini sudah mahir sekali bicara. Bahkan di sudah bisa mengucap “bismillahirrahmaanirrahiim” tanpa dituntun lagi. Ada cara khusus untuk memaksa kata itu keluar dari bibir mungilnya. Ketika dia sudah pingin nenen, sudah siap nenen, pasti saya menahannya untuk langsung nenen dengan mengatakan “ayo, baca bismillah dulu dong sayang”. Mendengar itu yang tadinya dia merengek tidak sabar, pasti dengan PD dia akan baca  “bis iyyah hi hohmaan hihohiim” maksudnya “bismillaahirrahmaanirrahim” yang di akhiri dengan senyum bangga karena dia bisa melakukan itu tanpa dibimbing. Perasaan saya sangat luar biasa, Syukur padamu Ya Allah, hamba yakin ini ujian untukku, akan mensyukuri atau akan sombong karenanya.

Senin, 19 februari 2007

Seperti telur Cicak

May 24, 2007 at 7:15 am | In Dunia Anak | Leave a Comment

Dalam satu lokakarya, di meja peserta yang bentuknya dibuat huruf U tersedia permen rasa mint. Di dalam mangkok kecil yang letaknya persis di depan saya, bentuk, warna, serta ukuran permen itu persis sama dengan telur Cicak. Sembari mengambil satu, saya nyeletuk ke teman di sebelah saya, “kayak telur cicak ya”. Myra, yang duduk di sebelah teman saya itu langsung merasa tertarik untuk berkomentar.

Beda halnya dengan anak-anak masa sekarang, yang hidupnya di kota, lebih akrab dengan TV dan dengan mainan yang serba terbuat dari plastik, elektronik serta digital pula. Anak-anak ini lebih dulu mengenal permen mirip telur cicak ketimbang telur cicak itu sendiri. Saat menemukan telur cicak, maka mereka akan mengatakan “ada telur yang mirip permen”. Generasi yang usianya sudah 30 atau di atasnya, kebanyakan lebih mengenal telur cicak itu daripada permen yang mirip dengannya. Ketika bertemu permen ini, langsung saja kita mengatakan permen ini mirip telur cicak. Masa kanak-kanak, mereka hanya mengenal sedikit sekali bentuk-bentuk permen. Apalagi rasanya, paling-paling hanya rasa mint dan jeruk.

Saya jadi berpikir, sepertinya ada cara sederhana untuk membedakan generasi sekarang dengan generasi yang berusia kira-kira 20 tahun di atasnya. Cara itu antara lain, dengan mengetahui apakah mereka lebih mengenal barang buatan (teknologi) manusia yang mirip barang yang sudah ada di alam ataukah mereka mencoba menghubungkan barang (buatan manusia) yang baru mereka temui dengan benda yang sudah pernah mereka lihat di alam sekitar. Kalau ia masuk kategori yang pertama, maka bisa ditebak, orang ini pertama kali menghirup oksigen di akhir tahun 80-an atau lebih muda lagi. Inilah realitas kehidupan di kota-kota macam Jakarta dimana anak-anak tak begitu mengenal daerah desa yang lebih akrab dengan nuansa alamnya.

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.